Pers Era Timeline

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

beberapa pengunjung sedang melihat pameran foto dalam acara pelatian jurnalistik

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 29 November 2014

Ajang Groufie di Brown Canyon



Brown Canyon, itulah sebutan orang-orang di jejaring sosial yang sudah pernah mengunjungi pertambangan pasir dan bebatuan padas yang cukup luas di desa Rowosari, Kecamatan Tembalang. Belum lama ini, Brown Canyon menjadi tempat favorit yang dikunjungi banyak orang karena keindahannya.
Yap! Sebutan Brown Canyon sendiri muncul karena banyaknya tebing-tebing tinggi berwarna coklat yang merupakan padas keruk bekas galian bukit yang masih digali hingga sekarang.
Meski begitu, pemandangan dari sisa bukit yang dikeruk ini dirasa nampak mempesona dan unik oleh kalangan anak muda, karena jarang dapat ditemui di padatnya kota Semarang, bahkan di Indonesia. Keunikan pemandangan alam ini, kemudian sering menjadi incaran para anak muda untuk berfoto ria. Sehingga, hampir tiap hari tempat ini tidak pernah sepi dari anak-anak muda yang melihat pemandangan dan selfie bareng atau sekarang biasa disebut dengan groufie.
Dian Wira, salah satu pengunjung Brown Canyon, mengaku dirinya jauh-jauh datang dari Unnes bersama teman-temannya, hanya untuk melihat pemandangan Brown Canyon untuk foto-foto.
“Tau dari instagram terus nyoba dateng ke sini, mau nyari spot foto landscape dan selfie bareng temen-temen,” ungkap Dian sapaan akrabnya.
“Kagum banget, dari lahan tambang bisa ngebentuk hamparan bukit batu yang keren, bagusnya tempat kayak gini dijadikan tempat wisata sekalian,” tambah mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Unnes tersebut.
Nah, sama halnya dengan Wira, Ambarwati Mustikasari mahasiswa jurusan Keperawatan Poltekkes, tau tentang Brown Canyon karena beberapa temannya mengunggah foto di jejaring sosial. “Temen-temen banyak yang mengunggah foto-foto di bbm, terus kita direkomendasiin ke sini, ternyata pemandangannya bagus buat foto-foto,” imbuhnya.
Brown Canyon ini memiliki dua jalur yang dapat ditempuh. Jalur pertama, dari arah Pucang Gading di Semarang Timur, dan jalur kedua melalui Tembalang di Semarang Selatan.
Nggak mudah untuk sampai di Brown Canyon, jalanan yang rusak karena banyaknya truk pengangkut besar yang berlalu-lalang, serta tanah berpasir dan berbatu di sekitar jalan menemani perjalan menuju tempat ini. Namun, letaknya yang jauh, serta sulitnya medan yang ditempuh, tidak menyurutkan keinginan Arisa dan beberapa temannya untuk foto-foto di Brown Canyon.
“Jalanannya jauh banget buat ke sini, tapi pas udah nyampe, terbayar sih, cukup bagus pemandangannya, jadi gak nyesel dateng kesini walaupun jauh,” ujar Arisa, mahasiswa Teknik Lingkungan Undip itu.
Bahkan, Fahrunnisa mahasiswa Fakultas Hukum Undip ingin kembali lagi ke brown canyon di lain kesempatan. “Aku sama temen-temen ke sini tujuannya emang buat foto-foto seru. Sampe di sini aku puas sama pemandangannya setelah ngelewatin perjalanan yang nggak mulus, tapi, aku rasa kurang persiapan ke sini. Pinginnya ke sini lagi dan lebih memaksimalkan penampilan, biar makin bagus fotonya,” ujar Nisa sapaan akrabnya.
Nah, buat kamu yang suka groufie bersama teman-teman. Brown Canyon merupakan salah satu tempat rekomendasi yang bisa kamu kunjungi. Selain pemandangan yang indah dan unik, kamu gak perlu mengeluarkan biaya untuk menuju tempat ini. Selamat bergroufie ria!


Wijaya Rover Challenge, Ganbate Luar Biasa



Penuh semangat dan rasa suka cita jargon “Ganbate Luar Biasa” menggema dalam jiwa seluruh kontingen pramuka yang mengikuti acara Wijaya Rover Challenge (WRC) di lapangan Fakultas Bahasa dan Sastra Unnes.
Berlangsung selama tiga hari, serangkaian kegiatan diadakan dalam Wijaya Rover Challenge yang dimulai dari Jumat lalu (31/10). Yaitu ada kompetisi mocopat, kontes bahasa Inggris, monolog bahasa Inggris, fotografi, hastakarya, dan putra-putri WRC.
“Melalui acara pramuka yang kami beri nama Wijaya Rover Challenge ini ingin memberikan tambahan wawasan tentang kepramukaan dan pengenalan tindakan konservasi,” ungkap Rini Sarwiyah, ketua panitia WRC atau biasa disebut ketua sangga kerja WRC oleh kontingen kepramukaan Guguslatih Bahasa dan Seni Unnes.
“Ganbate Luar Biasa” terbukti jargon mujarab dan kumpul bercakap-cakap dengan para penegak lainnya menjadi obat lelah para kontingen, karenanya semangat tergambar selalu dari raut seluruh peserta dan panitia pada setiap kegiatan. Mereka mengaku, “Meski lelah karena padatnya kegiatan dan cuaca Kota Semarang yang panas, kumpul terutama di bawah pohon yang rindang adalah sensasi dari esensi kebersamaan dalam WRC ini.”  
Acara semakin meriah tatkala menentukan putra-putri WRC 2014 di Sabtu malam. “Malam penganugrahan putra-putri WRC dimulai dari pukul tujuah hingga dua belas yang diikuti dengan sangat antusias oleh 19 putra dan 17 putri perwakilan dari berbagai sangga (regu) SMA sederajat di Jawa tengah,” jelas Rini.
“Di lapangan terbuka, pemilihan putra-putri WRC 2014 lebih ramai dibanding perayaan dua tahun lalu,” imbuhnya.
Menggunakan pakaian kebaya yang sudah dipersiapkan dari rumah masing-masing para kontestan putra-putri ditantang untuk dapat berpenampilan yang menarik, menyampaikan gagasananya dengan pengetahuan yang mereka miliki.
“Ada tiga aspek penilain yang diakumulasikan untuk menentukan pemenang putra-putri WRC. Pengetahuan dinilai dari konten jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Kecakapan dinilai dari kefasihan peserta menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian, penampilannya dinilai dari bakat yang ditampilkan peserta,” jelas Lutfiana Ilma Annisa, juri WRC 2014 dari Koordinator Putri Guguslatih Bahasa dan Seni, sekaligus anggota Racana Wijaya Unnes 2013.  
Terdiri dari beberapa tahap seleksi, yaitu seleksi makalah dan tes tertulis untuk menyaring 10 besar kontestan. Setelah itu, pertanyaan langsung yang diberi waktu menjawab 30 detik adalah seleksi untuk menyaring 3 besar. Pada tahap 3 besar sekaligus penentuan juara pertama, ketiga finalis diseleksi dengan pertanyaan langsung dan ditantang menunjukkan bakat mereka.
Bebagai persiapan dan cara finalis lakukan untuk mengahalau rasa gugup mereka. Berusaha untuk memberikan yang terbaik atas nama sekolah adalah motivasi mereka.
“Aku belajar dari jauh-jauh hari di rumah karena ini pengalaman pertama mengikuti kompetisi pramuka,” ungkap Muhammad Indra Majid dari SMA Negeri 1 Kaliwungu, Kendal. “Nggak menyangka dan seneng banget pengalaman pertama ini ternyata aku bisa terpilih menjadi putra WRC 2014 membanggakan sekolahku,” ucapnya dengan syukur.
Sama halnya dengan Indra, bagi Sinta Nofita dari SMA Negeri 3 Pekalongan, kegiatan kompetisi WRC 2014 adalah pengalaman kompetisi pertamanya yang dapat membuahkan kemenangan. Terpilih sebagai putri WRC 2014, Sinta mengaku tidak memiliki persiapan lebih selain membuat makalah yang ditentukan panitia.
“Aku nggak belajar sama sekali, aku cum apakai logika di setiap jawaban,” ungkap cewek juara kelas ini.
“Dari nilai angka 60-100 di setiap aspek penilaian yang diberikan empat juri, hasil akumulasinya juara putra WRC 2014 mendapatkan total nilai 994, sedangkan juara putri WRC 2014 mendapatkan nilai 1004,” terang Wahyu Haryadi, Juara 2 Duta Wisata Kabupaten Banjarnegara yang berkesempatan menjadi juri pada malam penobatan putra-putri WRC 2014.   
“Meski, sebenarnya kalah saing dengan peserta putri lain yang menampilkan tarian jawa kreasi dalam sesi unjuk bakat, kecakapan dan pengetahuan Sinta ini nggak perlu diragukan, karena ia dengan lancar dapat menjawab setiap pertanyaan,” ungkap Wahyu.
“Semoga dari serangkaian kegiatan ini dapat memberikan pembelajaran bagi peserta untuk dapat menjadi pramuka konservasionis dan dapat aktif mengembangkan bakat diri,” papar Rini. 


Pers Era Timeline

“Informasi sekarang berkembang sangat pesat dengan banyaknya media online yang sering menjadi acuan informasi, padahal berita yang berkembang di media online khususnya media sosial perlu dipilah-pilah.”

Yap! Begitulah Kirana Diyah Prameswari, ketua panitia acara tahunan Pendidikan Jurnalistik Dasar (PJD) mengungkapkan latar belakang acara yang mengulas tajuk “Pers Era Timeline” dalam acara tahunan yang menginjak tahun kelima ini.

Acara diselenggarakan selama dua hari oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang, berlangsung dari Sabtu hingga Minggu kemarin, di Gedung Serba Guna Fakultas Ilmu Keolahragaan.  

 Dihadiri sebanyak 140 peserta baik dari SMA sederajat, mahasiswa, dan masyarakat umum, disambut antusiasme tinggi oleh para peserta.

“Menambah pengetahuan, relasi tentang ilmu jurnalistik karena saya ikut bergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di PGSD Unnes,” ungkap Mochammad Huda Kurniawan mengenai tujuan ia mengikuti acara PJD.  

Pada hari pertama acara diisi oleh Aulia A. Muhammad, pengelola Rumah Media Semarang yang membahas mengenai kekurangan dan kelebihan era timeline dan keberadaan media cetak saat ini di tengah lalu lintas media online.

Ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta yang diajukan kepada Aulia, “Apa sih kelebihan dan kekurangannya berita yang telah masuk ke media sosial?” Bang Aul, sapaan akrab dari panitia untuk Aulia A. Muhammad, pun menjawab, “Kelebihannya, jika ada berita terbaru pasti akan diperbarui informasi tersebut tiap detiknya. Sedangkan kekurangannya, jika ada berita menyangkut persoalan sensitif dalam masyarakat, informasi tersebut akan mudah dan cepat menuai kecaman dengan berbagai perspektif.    

Materi kedua di hari pertama diisi oleh Raditya Mahendrayasa atau biasa disapa Radit. Materi yang disampaikan mengenai fotografi jurnalistik disertai praktik pengambilan gambar oleh para peserta di akhir acara, yang kemudian dievaluasi oleh Radit. “Peserta sebelumnya dikelompokkan menjadi 10 kelompok untuk melakukan praktik pegambilan foto jurnalistik di sekitar wilayah pelaksanaan acara seminar,” ungkap koordinator acara, Eva Rafikoh.  

Redaktur Tribun Jateng Achiar Permana, Redaktur Suara Merdeka Saroni Asikin, dan Ketua AJI Semarang Muhammad Rofiuddin, hadir sebagai pengisi acara di hari kedua. Mengenai materi yang disampaikan setiap pembicara memiliki fokus pembahasan yang berbeda-beda. Achiar fokus mengenai prinsip jurnalistik bagi pers mahasiswa. Saroni membahas mengenai proses reportase. Kemudian, Rofiuddin dari AJI mengulas mengenai regulasi dan etika jurnalistik.

“Ilmu jurnalistik yang dibahas dalam acara ini, menurutku keren banget. Ada keinginan juga suatu saat bisa menjadi jurnalis, tapi untuk saat ini belum siap. Terlebih melihat tantangan-tantangan jurnalis,” ungkap Vitria Maynora, salah satu peserta acara dari Unnes jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3.

Nah, selain pelatihan jurnalistik, acara ini juga diramaikan dengan pameran foto dari Klik, UKM Fotografi dan lukisan dari UKM Desain.

“Memberikan pengetahuan mengenai dunia pers dan memberikan arahan agar sebagai penikmat media online, kita harus dapat aktif memilah-milah berita yang diinformasikan,” begitulah harapan Kirana.